Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan (FT UNPAR) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat tertinggi dengan melahirkan tiga doktor baru melalui Ujian Disertasi Terbuka. Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi institusi dalam memperkaya diskursus akademik, khususnya pada ranah arsitektur berbasis konteks budaya dan nilai lokal Indonesia. Melalui riset yang mendalam, ketiga doktor ini memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian serta pengembangan teori arsitektur yang berakar pada identitas Nusantara.
Salah satu doktor, Josephine Roosandriantini, berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang yang digelar pada Kamis, 29 Januari 2026. Riset beliau yang berjudul “KAJIAN FENOMENOLOGI PENGALAMAN BERHUNI PADA RUMAH TRADISIONAL JAWA DI PONOROGO DAN MAGETAN JAWA TIMUR” membedah aspek fundamental hubungan antara ruang dan manusia. Penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana nilai-nilai tradisional dan pengalaman berhuni masyarakat di Jawa Timur membentuk identitas arsitektural yang melampaui sekadar bentuk fisik bangunan.
Pada hari yang sama, Kamis, 29 Januari 2026, Rahil Muhammad Hasbi juga resmi menyandang gelar doktor setelah memaparkan disertasi berjudul “STRUKTUR HUNIAN MASYARAKAT ACEH PADA RUMOH ACEH DAN RUMOH BATEE DALAM KONTEKS TRANSFORMASI”. Penelitian ini menyoroti evolusi dan ketahanan struktur hunian masyarakat Aceh di tengah arus transformasi zaman. Studi ini menjadi rujukan krusial dalam memahami bagaimana arsitektur tradisional beradaptasi terhadap perubahan sosial dan teknologi tanpa mengenyampingkan esensi kulturalnya.
Melengkapi pencapaian ini, Recky Yundrismein melaksanakan Ujian Disertasi Terbuka pada Hari Jum’at, 6 Februari 2026 dengan mempresentasikan karya ilmiah berjudul “RAGAM DAN MAKNA ORNAMEN TRADISIONAL PADA RUMAH ADAT MELAYU BENGKULU”. Riset ini menelaah ragam ornamen tradisional pada rumah adat Melayu Bengkulu sebagai representasi nilai sosial, simbolik, dan kosmologis masyarakat setempat. Kajian tersebut mengungkap keterkaitan antara bentuk ornamen, struktur ruang, serta makna budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Kehadiran tiga doktor baru ini merupakan manifestasi nyata dari visi Fakultas Teknik UNPAR dalam melahirkan pakar yang mampu menjawab tantangan arsitektur masa depan melalui pendekatan berbasis riset budaya. Sinergi antara kajian fenomenologi, struktur transformasi, dan ragam makna ornamen ini diharapkan mampu memperkokoh fondasi keilmuan Arsitektur Indonesia. Momentum ini memperlihatkan peran Fakultas Teknik UNPAR sebagai ruang akademik yang terus melahirkan pemikiran arsitektur berbasis konteks dan relevansi budaya.

